Usia yang penuh berkah….
Tahun yang penuh pembelajaran tentang rasa bersyukur, berterima kasih,
bersabar, berdamai dengan pikiran dan keadaan.
Mengetahui bahwa yang pernah kita lakukan ternyata tidak sia sia.
Melepas anak masuk day care maupun sekolah mulai dari
tingkat crawler, toddler, playgrup hingga full day school/kindergarten dan mendampinginya
mengerjakan homework2-nya sambil matanya tetep jelalatan ke arah film kartun, nungguin
belajar iqra di TPA maupun mengasistensi lafaz ma’roj a-ba-ta-nya di rumah.
Berdamai dengan diri sendiri, belajar arti bersabar lagi,
melakukan beberapa tindakan yang agak gila karena di luar kebiasaan hahaha
Belajar bahwa tidak ada yang kekal di dunia, selalu ada kematian, kehilangan,
seperti roda yang selalu berputar
Bersyukur atas teman-teman dosen dan liqo yang baik
yang selalu ada dan saling menguatkan.
Diberkahi anak yang ganteng, salih dan sekaligus
cerdas yang akhirnya membuat untuk pertama kalinya sadar bahwa perkataan orang
bijak itu benar sekali, anak adalah harta yang paling bernilai dan berkahnya
lagi anak dengan tingkat verbal linguistic multiple intelligent tinggi macam
baby max itu benar-benar lawan diskusi yang talkative sekaligus constructive
banget.
Dan pengalaman menjadi pemakalah di international conference ASEAN-EU Science, Technology and Innovation Days sekaligus mencicipi kopi dan teh herbal terbaik dunia di negara aslinya. Achievements yang luar biasa hahaha...
Tahun yang benar-benar penuh berkah. Tuhan yang benar-benar sayang hambanya yang ikhlas. #pret #eh
#lifebeginsatfourty
Tuesday, June 28, 2016
Tuesday, March 29, 2016
Aku Dinamai Azzurri Dianis Maximus
Maximus, itu nama yang dipilih mamma-nya Max sejak tahu hamil. Dua nama
sekaligus sudah ada saat itu, Maxima atau Prudence kalau baby-nya cewek
dan Maximus kalau cowok. Walau sejak sebelum hamil sudah ada kesepakatan
bahwa bila kelak baby-nya cowok maka yang kasih nama anak adalah pappa,
tapi ternyata mamma tetap siap-siap juga, pappa pun sangat setuju
dengan nama itu. Orang yang kuat, katanya begitu tahu itu nama tokoh
gladiator sekaligus anggota senator Romawi kuno. Dan, ternyata
antisipasi ini ada bagusnya, karena sampai last minutes pun pappa belum
punya nama final.
Memang ini pekerjaan gampang-gampang susah. Entah karena kebiasaan sejak lama yang selalu mengerjakan tugas-tugas di detik-detik terakhir, sampai H-2 due date-nya baby, masih belum mempunyai nama lengkap yang definitif. Sampai-sampai minta saran handai taulan melalui sosial media dan BBM. Banjir respon saat itu menghasilkan ada banyak nama dari berbagai bahasa yang kami koleksi. Nama dari bahasa Jepang paling digadang-gadang, terutama untuk nama tengah.
Syarat penggunaan 3 kata untuk nama supaya nanti dia nggak diribetkan dengan urusan-urusan dokumen standar internasional lumayan bikin tambahan PR. Cara termudah tentunya pada kata ketiga menggunakan nama pappa aja, Dasril. Lalu tinggal cari nama depan dan nama tengahnya.
Alternatif lain adalah menggunakan nama keluarga pappa, Syahrial. Nah, tetep aja, yang mesti dicari nama depan dan tengahnya.
Ketika baby sudah dipastikan berjenis kelamin cowok, PR yang harus dikerjakan bukan saja membuat rangkaian nama menjadi sejalan dalam makna dan harmonis dalam penyebutan ketika digunakan bersama nama yang telah dipilihkan si mamma, Maximus. Kata dalam bahasa Romawi yang berarti the greatest, yang terbesar, yang maksimal.
Masih ada PR tambahan, bagaimana caranya agar dari nama yang dipilihkan itu bisa dipenggal hanya menjadi satu suku kata untuk nick name, tapi tetap bermakna layaknya sebuah kata atau bahkan kalimat.
Maka, pilihan Maximus pun langsung approved, bungkus! Dari kata ini, jika dipenggal satu suku kata, muncullah kata ‘Max’, panggilan yang bagus, easy listening sekaligus bermakna the big one, yang besar.
Alasan lainnya, supaya memudahkan meninabobokannya. Karena, umumnya lagu-lagu anak-anak internasional dan nasional banyak menggunakan nama dengan satu suku kata sehingga mudah di-replace dengan namanya. Contohnya lagu: are you sleeping, are you sleeping, brother max brother max…. atau lagu anak soleh yang digubah dari children song —lagi-lagi hasil youtube-ing— yaitu: happy ye ye ye happy ya ya ya, max bangga jadi anak soleh, solat lima waktu dalam sehari dan semalam, mengaji, puasa dan berzakat.
Begitulah, nama Maximus sudah approved, whether sebagai nama tengah atau nama belakang. Sedangkan untuk nama depan, pappa sudah jauh-jauh hari menggadang-gadang nama Socrates untuk calon “jagoan penerusnya”. Sampai di hari-hari terakhir jelang due date-nya, Ketua DPD Partai Golkar Lampung mau menyumbang nama, Alfito. Katanya singkatan dari anak lelaki Trufi dan Yanto. Sumbangan ini langsung dicoret, karena nama sepupunya di Bandung sudah sangat mirip, Alvito, bagaimana nanti kalau lagi kumpul, bakal ada duo alf/vito dong. Tapi pappa gak mau mengecewakan Pak Alzier, diambillah nama tengahnya, Dianis. Selain berarti cahaya/pelita/penerang, kalau dikutak-katik juga menjadi gabungan nama pappa-mammanya, DASrIl ‘n DIAn. Oke, tiga kata sudah terpilih, tinggal dirangkaikan. Sampai sini, it’s almost perfect!
Sampai saat pappanya usai membaca buku tentang Plato, muridnya Socrates. Dia baru menyadari bahwa filsuf terkenal itu tewasnya sangat mengenaskan, dibunuh pemerintah berkuasa. Takut putranya jadi unlucky maka nama Socrates pun dicoret. Mamma juga setuju karena nama itu terlalu berat. Mamma pernah belajar tentang Plato’s notion, ternyata isi kepalanya Plato itu sama dengan tiga kepala. Kepala Socrates sang guru, kepala Plato sendiri dan kepala Aristotle, muridnya Plato. Dan itu cukup bikin puyeng.
Sabtu, 21 Juli 2012 dini hari, the D-day pun tiba, nama depan belum ada yang officially juga, karena Dianis sudah dipastikan jadi nama tengah dan Maximus nama belakang. Detik, menit, jam pun berlalu, mules tak tertahankan. Dokter baru muncul pukul 11.00 WIB dan akhirnya baby lahir sejam kemudian. Tepat saat baby lahir, sayup-sayup berkumandang azan zuhur. AZan ZUhuR on Ramadan the fIrst. Ya, saat itu memang 1 Ramadan (versi pemerintah). Azzurri, nama yang bagus untuk nama depan. Apalagi dalam bahasa Italia berarti biru, yang mengacu warna langit Eropa khususnya Italia yang benar-benar biru.
Azzurri Dianis Maximus, anak lelaki Dasril dan Dian yang lahir saat azan zuhur hari pertama Ramadan dan kelak jadi orang besar. Atau dalam versi lain, cahaya/pelita yang agung/besar/banyak dari langit yang biru.
Keberatan nama? Kabotan jeneng? Nggak. Nama adalah doa. Harapan yang diinginkan oleh orangtua. Kalau berdoa jangan tanggung-tanggung. Harus setinggi-tingginya, semaksimal mungkin. Terdengar kurang Islami? Siapa bilang, nama depan sudah jelas diambil dari kata azan zuhur dan bulan Ramadan. Nama tengah jelas bermakna nur. Dan, nama belakangnya, mengandung doa yang sungguh-sungguh. Kami pun setuju bahwa semua bahasa adalah ciptaan Allah, bahkan bahasa Iberani pun ciptaan-Nya. Nama dari bahasa apa pun tergantung cara mendidiknya. Tak jarang nama dari bahasa Arab ternyata orangnya jahiliyah. Abu Jahal dan Abu Lahab misalnya, semua berbahasa Arab. Steve Jobs, Albert Einstein, Soekarno, Tan Malaka, semuanya bukan berbahasa Arab, tapi mulia bagi masyarakatnya, pada masanya.
Azzurri Dianis Maximus, jadilah engkau orang yang berguna bukan hanya untuk orangtuamu, nak, jangan hanya sebatas lingkunganmu, bukan hanya untuk negaramu, tapi the whole world in your order! Pappa-Mamma berdoa di semua tempat dan waktu mustajab untukmu, mendoakan kita semua... Insya Allah diijabah.. Yah, kalau nggak semua, 1% saja yang diijinkan Allah sudah luar biasa. Sebab 1% nya dari luasan 100% langit biru yang maksimal!
Wa inni sammaituhaa Azzurri Dianis Maximus. Wa inni u’izuha bika wa zurriiyatahaa minasy syaithaanir rojiim. (Sesungguhnya aku telah menamainya Azzurri Dianis Maximus. Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau daripada syaitan yang terkutuk).
Rabbi hablii mil ladunka zurriyatan tayyibah. Innaka sami’ud du’aa. (ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a).
Memang ini pekerjaan gampang-gampang susah. Entah karena kebiasaan sejak lama yang selalu mengerjakan tugas-tugas di detik-detik terakhir, sampai H-2 due date-nya baby, masih belum mempunyai nama lengkap yang definitif. Sampai-sampai minta saran handai taulan melalui sosial media dan BBM. Banjir respon saat itu menghasilkan ada banyak nama dari berbagai bahasa yang kami koleksi. Nama dari bahasa Jepang paling digadang-gadang, terutama untuk nama tengah.
Syarat penggunaan 3 kata untuk nama supaya nanti dia nggak diribetkan dengan urusan-urusan dokumen standar internasional lumayan bikin tambahan PR. Cara termudah tentunya pada kata ketiga menggunakan nama pappa aja, Dasril. Lalu tinggal cari nama depan dan nama tengahnya.
Alternatif lain adalah menggunakan nama keluarga pappa, Syahrial. Nah, tetep aja, yang mesti dicari nama depan dan tengahnya.
Ketika baby sudah dipastikan berjenis kelamin cowok, PR yang harus dikerjakan bukan saja membuat rangkaian nama menjadi sejalan dalam makna dan harmonis dalam penyebutan ketika digunakan bersama nama yang telah dipilihkan si mamma, Maximus. Kata dalam bahasa Romawi yang berarti the greatest, yang terbesar, yang maksimal.
Masih ada PR tambahan, bagaimana caranya agar dari nama yang dipilihkan itu bisa dipenggal hanya menjadi satu suku kata untuk nick name, tapi tetap bermakna layaknya sebuah kata atau bahkan kalimat.
Maka, pilihan Maximus pun langsung approved, bungkus! Dari kata ini, jika dipenggal satu suku kata, muncullah kata ‘Max’, panggilan yang bagus, easy listening sekaligus bermakna the big one, yang besar.
Alasan lainnya, supaya memudahkan meninabobokannya. Karena, umumnya lagu-lagu anak-anak internasional dan nasional banyak menggunakan nama dengan satu suku kata sehingga mudah di-replace dengan namanya. Contohnya lagu: are you sleeping, are you sleeping, brother max brother max…. atau lagu anak soleh yang digubah dari children song —lagi-lagi hasil youtube-ing— yaitu: happy ye ye ye happy ya ya ya, max bangga jadi anak soleh, solat lima waktu dalam sehari dan semalam, mengaji, puasa dan berzakat.
Begitulah, nama Maximus sudah approved, whether sebagai nama tengah atau nama belakang. Sedangkan untuk nama depan, pappa sudah jauh-jauh hari menggadang-gadang nama Socrates untuk calon “jagoan penerusnya”. Sampai di hari-hari terakhir jelang due date-nya, Ketua DPD Partai Golkar Lampung mau menyumbang nama, Alfito. Katanya singkatan dari anak lelaki Trufi dan Yanto. Sumbangan ini langsung dicoret, karena nama sepupunya di Bandung sudah sangat mirip, Alvito, bagaimana nanti kalau lagi kumpul, bakal ada duo alf/vito dong. Tapi pappa gak mau mengecewakan Pak Alzier, diambillah nama tengahnya, Dianis. Selain berarti cahaya/pelita/penerang, kalau dikutak-katik juga menjadi gabungan nama pappa-mammanya, DASrIl ‘n DIAn. Oke, tiga kata sudah terpilih, tinggal dirangkaikan. Sampai sini, it’s almost perfect!
Sampai saat pappanya usai membaca buku tentang Plato, muridnya Socrates. Dia baru menyadari bahwa filsuf terkenal itu tewasnya sangat mengenaskan, dibunuh pemerintah berkuasa. Takut putranya jadi unlucky maka nama Socrates pun dicoret. Mamma juga setuju karena nama itu terlalu berat. Mamma pernah belajar tentang Plato’s notion, ternyata isi kepalanya Plato itu sama dengan tiga kepala. Kepala Socrates sang guru, kepala Plato sendiri dan kepala Aristotle, muridnya Plato. Dan itu cukup bikin puyeng.
Sabtu, 21 Juli 2012 dini hari, the D-day pun tiba, nama depan belum ada yang officially juga, karena Dianis sudah dipastikan jadi nama tengah dan Maximus nama belakang. Detik, menit, jam pun berlalu, mules tak tertahankan. Dokter baru muncul pukul 11.00 WIB dan akhirnya baby lahir sejam kemudian. Tepat saat baby lahir, sayup-sayup berkumandang azan zuhur. AZan ZUhuR on Ramadan the fIrst. Ya, saat itu memang 1 Ramadan (versi pemerintah). Azzurri, nama yang bagus untuk nama depan. Apalagi dalam bahasa Italia berarti biru, yang mengacu warna langit Eropa khususnya Italia yang benar-benar biru.
Azzurri Dianis Maximus, anak lelaki Dasril dan Dian yang lahir saat azan zuhur hari pertama Ramadan dan kelak jadi orang besar. Atau dalam versi lain, cahaya/pelita yang agung/besar/banyak dari langit yang biru.
Keberatan nama? Kabotan jeneng? Nggak. Nama adalah doa. Harapan yang diinginkan oleh orangtua. Kalau berdoa jangan tanggung-tanggung. Harus setinggi-tingginya, semaksimal mungkin. Terdengar kurang Islami? Siapa bilang, nama depan sudah jelas diambil dari kata azan zuhur dan bulan Ramadan. Nama tengah jelas bermakna nur. Dan, nama belakangnya, mengandung doa yang sungguh-sungguh. Kami pun setuju bahwa semua bahasa adalah ciptaan Allah, bahkan bahasa Iberani pun ciptaan-Nya. Nama dari bahasa apa pun tergantung cara mendidiknya. Tak jarang nama dari bahasa Arab ternyata orangnya jahiliyah. Abu Jahal dan Abu Lahab misalnya, semua berbahasa Arab. Steve Jobs, Albert Einstein, Soekarno, Tan Malaka, semuanya bukan berbahasa Arab, tapi mulia bagi masyarakatnya, pada masanya.
Azzurri Dianis Maximus, jadilah engkau orang yang berguna bukan hanya untuk orangtuamu, nak, jangan hanya sebatas lingkunganmu, bukan hanya untuk negaramu, tapi the whole world in your order! Pappa-Mamma berdoa di semua tempat dan waktu mustajab untukmu, mendoakan kita semua... Insya Allah diijabah.. Yah, kalau nggak semua, 1% saja yang diijinkan Allah sudah luar biasa. Sebab 1% nya dari luasan 100% langit biru yang maksimal!
Wa inni sammaituhaa Azzurri Dianis Maximus. Wa inni u’izuha bika wa zurriiyatahaa minasy syaithaanir rojiim. (Sesungguhnya aku telah menamainya Azzurri Dianis Maximus. Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau daripada syaitan yang terkutuk).
Rabbi hablii mil ladunka zurriyatan tayyibah. Innaka sami’ud du’aa. (ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a).
Monday, February 29, 2016
Pedang Pora, Tak Sekadar Pesta Pora
SEBANYAK
13
orang lelaki dengan tubuh tegap, berseragam
marinir putih-putih dan wajah serius, berbaris rapi di atas bentangan karpet
merah di tengah-tengah venue sebuah acara. Di pinggang kiri mereka, terselampir
sebuah pedang. Panjangnya lumayan. Dibungkus sarung logam berwarna perak,
pedang itu tampak anggun.
Beberapa saat lamanya, mereka
pada posisi yang sama: pandangan mata tegak ke depan, kaki tegap agak terbuka
dan telapak tangan bertemu di belakang tubuh. Mereka menunggu aba-aba. Tada
dimulainya prosesi wisuda.
Ya, saat itu memang
acara wisuda. Tepatnya bagi 134 orang lulusan Kampus Prasetiya Mandiri Lampung.
Para lelaki gagah berseragam itu adalah pasukan pedang pora yang membuka
seluruh rangkaian acara wisuda tanggal 19 Desember 2016 itu.
Tapi aba-aba bukanlah satu-satunya
yang mereka tunggu hakekatnya. Sebab, aba-aba pun masih harus menunggu momentum,
situasi, dan yang pasti menunggu kedatangan anggota Senat PMG bersama pejabat
terkait.
Seorang lelaki lain
berjubah kebesaran senat dan bertoga memimpin para senat yang berbaris rapi di
belakangnya. Membawa sebuah paddle stick, dia memberikan aba-aba, ”Prosesi
Senat PMG Lampung memasuki tempat acara wisuda.”
Dan komandan pasukan
pedang pora pun bersegera menyiapkan pasukannya. Itulah aba-aba pertama bagi
mereka. Aba-aba demi aba-aba lainnya pun runut menyusul diikuti gerakan
serempak, tegas dan serba patah-patah tapi sangat anggun dari semua anggota
pasukan.
Lelaki-lelaki
berseragam putih-putih itu pun tampak tegas menjalankan tugasnya. Pedang yang
menggantung di pinggang kiri mereka, dihunus. Lalu pedang-pedang itu
dimoncongkan ke depan dengan posisi diagonal ke depan atas kepala.
Ketua dan para anggota
senat beserta pejabat undangan berjalan pelan-pelan di bawah rangkaian pedang
di depan mereka. Perlahan-perlahan, pedang yang menghadang jalan dan sudah
dilalui senat mulai diturunkan kembali. Ke posisi dimoncongkan tapi ke bawah
dan diagonal ke depan.
Dengan gerakan yang sedemikian rupa, pedang-pedang yang terhunus itu bisa dilewati anggota senat, tanpa menyentuh sehelai rambut pun.
Itulah prosesi yang disebut Pedang Pora. Sebuah tradisi di kalangan militer untuk menandai suatu pelepasan. Upacara pedang pora tersebut sukses menandai dan mengakhiri prosesi wisuda PMG Lampung periode 2015/2016 ini.
Para pasukan pedang pora itu, tak lain dan tak bukan adalah mahasiswa PMG Lampung sendiri. Mereka tercatat sebagai mahasiswa atau taruna STIM Mutiara Jaya-Prasetiya Mandiri Lampung Prodi KPNK dan Teknik Perkapalan. Mereka menjalankan upacara pedang pora untuk melepas kakak tingkatnya, para lulusan PMG Lampung.
Kesuksesan upacara
pedang pora tersebut tak luput dari buah kerja keras tim pelatih dan Direktur
PMG Lampung Dr. H. Suheriyatmono, S.E., M.M., Ak., CA. Menurut Koordinator Tim
Pedang Pora Ir. Prayudi, pasukan pedang pora dilatih selama beberapa hari
sebelum Hari H wisuda dengan disiplin dan gigih.
Sementara Kaprodi KNPK
Kristina Agustiani, S.Pel. yang juga salah satu tim pelatih pedang pora,
menambahkan bahwa cara melepas pedang dari sarungnya, menghunus dan
menyarungkan pedang kembali ada tata cara dan filosofinya. “Semuanya sesuai
dengan tata cara militer,” ujarnya di sela-sela latihan yang didampingi tim
pelatih dari marinir dan taruna SMK Satria Bahari.
“Ada banyak simbol
dalam ritual ini. Yaitu melambangkan persaudaraan, solidaritas, permohonan
perlindungan pada Tuhan, dan sebagainya,” tambahnya. Upacara pedang pora itu sebenarnya
simpel tapi bagaimana pun juga tetap mengundang perhatian orang-orang.
Buktinya, saat wisuda
PMG tersebut. Para tamu menyikapi acara itu dengan sikap anteng, konsentrasi
dan hampir speechless. Agaknya momen langka itu tak hendak dilepas begitu saja.
Juru foto dan kamera pun menjadikan prosesi itu sebagai lahan jepretan yang tak
sudah-sudah.
“Pedang Pora adalah
sebuah tradisi. Tapi sebagai tradisi, ia tak identik dengan nilai tradisional.
Itu terlihat dengan tak dibenturkannya nilai-nilai itu dengan jaman yang kian
jadi modern. Buktinya, Pedang Pora bisa berlangsung di mana pun,” kata Kristina.
Prosesi yang penuh
filosofi itu berlangsung di antara sekian tamu yang bisa jadi simbol kaum urban.
Di ruang pertemuan yang artistik, dengan jepretan kamera foto dan sorot lampu kamera
video yang mengesankan itu acara pesta mewah.
Di tengah gaun-gaun kebaya
yang nasionalis dan busana jas yang modern, dandanan yang penuh polesan dan
tutur bahasa santun master of ceremony yang di-mix antara bahasa Inggris dengan
bahasa Indonsia. Semua tetap saja bisa “masuk” dengan prosesi pedang pora.
Meski berbagai
“nilai” terkandung dalam ritual itu, Pedang Pora, lebih dekat pada sebuah
bentuk kedisiplinan dan sumber kemurnian ilmu pengetahuan. Ini sebagaimana
salah satu prinsip dari ketujuh kenladi lembaga PMG Lampung.
Wednesday, January 6, 2016
On record: My InWEnt-ASEAN experience ( A Very Late Post on My Journalistic Experience)
by Frencie L. Carreon/Philippines
The two-week journalism course that I recently completed in Jakarta is one of those challenging and definitely great learning episodes. Today’s feature sums up the experience, and brushes aside questions on where I had been, and perhaps speculations on alleged resignation from Zamboanga Today—a thought I wouldn’t even entertain, especially since I’ve been part of the newspaper a year since it was born.
Indeed, this is an overdue semi-travelogue from an alumna of the International Institute for Journalism of InWEnt, whose “professional schooling” so to speak, on Reporting on Regional Integration in Southeast Asia—History, Institutions and Policies of ASEAN, was made possible by the Federal Foreign Office on behalf of the Government of the Federal Republic of Germany.
Sixteen Smiles
There were 16 of us in the class—myself of Zamboanga Today and Allen Sam Estabillo of MindaNews from the Philippines; Boon Eong Leslie Koh and Kian Beng Kor of The Straits Times from Singapore; Muhammad Khairul Anwar Ismail of The Borneo Post from Brunei Darusallam; Meysan Sotheary of Women’s Media Centre of Cambodia, Nhean Moeun of The Cambodian Scene Magazine, and Samnang Bo of APSARA TV and Radio Station from Cambodia; Phonesavanh Sangsomboun of Vientiane Times and the Lao Press in Foreign Languages from Laos; Nguyen Thi Thu Huyen of Vietnam Business Forum Magazine, Vu Thu Ha of Viet Nam News, and Pham Vu Van of Thanhnien Newspaper from Vietnam; Herning Banirestu of Swa Magazine, Masjidi Amin of Hidayatullah Magazine, and Trufi Murdiani of Radar Lampung from Indonesia; and Kittipong Thavevong of The Nation from Thailand.
The organizer, InWEnt, sent who I would describe as its well-chosen ambassadress, Alexandra Klawitter all the way from Frankfurt, Germany, and she was assisted in Indonesia by Ikram Putra of The Jakarta Post. Both were splendidly organized and most helpful to the letter.
The Course
The two-week training course was for journalists from print and online media based in Member States of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). The IIJ programme is “conducted in co-operation with the ASEAN Secretariat and is part of a capacity building project that aims at strengthening the process of regional integration and the role of the ASEAN Secretariat as a coordinating institution to help facilitate effective decision-making within and amongst ASEAN bodies… In addition, the programme enables the exchange of journalists from various ASEAN member states and gives the opportunity for regional and national networking. It lays the foundation for a further component of an IIJ alumni programme focusing on issues of regional integration.” (Source: InWEnt)
InWEnt – Qualified to Shape the Future
“InWEnt – Capacity Building International, Germany, is a non-profit organisation with worldwide operations dedicated to human resource development, advanced training, and dialogue. Our capacity building programmes are directed at experts and executives from politics, administration, the business community, and civil society.” (Source: InWEnt)
International Institute for Journalism
“The International Institute for Journalism (IIJ) of InWEnt–Capacity Building International, Germany, has been offering advanced training for print and news agency journalists from developing and transitional countries since 1964. In recent times, special courses for online journalists have been added to the training scheme.
The aim of the courses is to strengthen the press freedom in the partner countries of the German development co-operation and thus improve the conditions for democratisation and social and economic development. In this capacity, the IIJ represents a key pillar in the media development work of the Federal Government of Germany.” (Source: InWEnt)
The Lecturers
Our trainers were Dr. Martin Loffelholz and Ms. Andrea Thalemann.
Dr. Loffelholz is “Chair of the Department of Media Studies, Director of the International Crisis Communication Research Group at Ilmenau University of Technology, and Chairman of RECODE, a consulting company based at Erfurt (Germany). Since his first stay in Asia in 1980, Dr. Loffelholz has lived and worked more than ten years in various Southeast Asian countries, particularly in Cambodia, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand, and Vietnam. He studied at the University of Munster (specializing in journalism and intercultural communication). From 1981 to 1988, he worked as news editor at daily newspapers in Germany and Sri Lanka, the German Press Agency (dpa) and as TV and radio reporter at Westdeutscher Rundfunk, Cologne. After earning his Ph.D., he has taught at universities in Germany, Indonesia, Philppines, and the United States of America. He participates frequently in the German-Arab and the German-Indonesian Media Dialogues organized by the German Federal Foreign Office.
Ms. Thalemann has been covering global business, trade and European Union issues for print, radio and television media in Asia, Eastern Europe and Western Europe for 14 years. She holds a Master of Science in Journalism from the Graduate School of Journalism at Columbia University, New York, a diploma in Southeast Asian and development studies from the Freie Universitat Berlin; a Reuters Fellowship from the University of Oxford, U.K., and a Master of Philosophy in Musicology from the University of Cambridge, U.K. Andrea has worked as a correspondent in Bangkok, Thailand, and Budapest, Hungary, for Asia Times, the first global Asian-owned, English language business newspaper, covering international business summits of ASEAN, APEG, and ASEM, Asian foreign policy and Asian investment in Eastern Europe. Following the Asian Financial Crisis in 1997, Andrea set up an award-winning feature programme on globalization for the English Service of the Deutsche Welle Radio. She then moved to France where she was editor at EuroNews Television in Lyon and won a Reuters Fellowship for her work. In 2002, she relocated to Brussels, Belgium, to set up EUi Media, a subscription-based publishing company focusing on EU regulatory affairs with readers in government, industry and legal practice all over the world. Andrea has been a trainer at the International Institute for Journalism of InWEnt for six years. In addition to teaching courses on the WTO and global trade, she is the lead tutor of the IIJ’s six-month online training course, ‘Economy and Financial Reporting’ and has developed an e-learning course on European and Asian trade relations.” (Source: InWEnt)
ASEAN as a Learning ‘Coverage’The Association of Southeast Nations (ASEAN) is per se not a new subject for me to read about. Philippine Information Agency Undersecretary Leo Omoso has been very diligent in sending me media releases on ASEAN news. Gauging from the expressed remarks of my classmates, I thought that I had just a little more readings (yet, hardly enough) on ASEAN news than the rest of them did. But just like most of them, I also came in ‘zero’ when it came to ASEAN reporting.
The ASEAN Secretariat, as a partner of IIJ, was most enlightening. To begin with, ASEAN Secretary-General Dr. Surin Pitsuwan accommodated us well, answering the queries of a few of us who were fortunate to have been able to bring up issues with him. (My concerns were on ASEAN’s state of regional security and where the United States stood at the ASEAN—a separate feature, I’d say.) In addition, the ASEAN Secretariat sent over as resource speakers for our learning sessions Dr. Thermsak Charlermpalanupap, Special Assistant to the Secretary-General; Mr. Quang Anh Le, Assistant Director of the Bureau for Economic Integration and Finance; Ms. Carla Budiarto, Senior Officer of the Research and Information System Unit; ASEAN Foundation Executive Director Dr. Filemon Uriarte, Jr.; then Assistant Director of the Bureau of External Relations Coordination Raul Cordenillo.
Two practicing media colleagues addressed us in two separate occasions. Professor Danilo Arao of the University of the Philippines College of Mass Communications provided an assessment of the ASEAN media, and his comparative notes opened insights to all of us participants—and also opened avenues of discussion in the succeeding days during breaks. Jakarta-based Moritz Kleine-Brockhoff, Southeast Asia correspondent of the Frankfurter Rundschau, shared his media experiences and observation of ASEAN from a European journalist’s perspective.
The World Food Program sent over the country director for Indonesia, Ms. Angela Van Rynbach, who discussed food security in the ASEAN region.
We also had one great opportunity in visiting the headquarters of the European Commission to Indonesia, where we had an interview with Cecile Leroy, its policy advisor, and project officer, Economic and Regional Cooperation of the European Union’s Delegation of the European Commission to Indonesia and Brunei Darussalam, as well as a learning session on the trade relations between ASEAN and the European Union with Asa Larsson, trade adviser in the Economic and Trade Section of the European Union’s Delegation of the European Commission to Indonesia, Brunei Darussalam and East Timor.
Each speaker laid down before us rich fields of information on ASEAN, or relative to ASEAN, most of which are worth sharing to all readers.
In our visit to The Jakarta Post, we were welcomed by Meidyatama Suryodiningrat, its managing editor, who briefly and comprehensively shared with us 25 years of newspaper journalism.
Within the duration of the training, some of us found ourselves “working from overseas” as we sent stories all datelined Jakarta. A few of us did share that these got published or aired while the training was going on, but we admitted as well that there was more reporting to do now that we are all home.
Learning from the Tours
The guided as well as our exploratory tours in Indonesia were the add-ons to the training course, but these provided the opportunities for all sixteen of us to get to know each other, and learn about our respective cultures. Some of us blended well with the others, and some who were initially reserved and shy, if not critical, somehow found ourselves feeling relaxed and comfortable (as expected) by the second week.
A few tours (to include shopping) were a little exhausting, but the laughter that went along with each ‘togetherness’ came as the best relief for the tiredness, if not boredom brought about by the dreaded traffic jam.
The tours essentially showcased some of the best of Indonesia—although we also couldn’t help having a glimpse of its worst (traffic jam, population, and even economy). However, Indonesia, being the seat of ASEAN, and its people being Southeast Asians whose culture bore a lot of similarities with ours here in the Philippines, was the best location for the training.
I couldn’t bear the chilis and the hot sauces that were essentially Indonesian and Thai cuisine, but the Japanese, Chinese, and Italian food (and yes, The Colonel was there—thank God for Kentucky Fried Chicken!) were a great help to stuff us up.
Among the great perks too were the sneaky trips that some of us did whether individually or in smaller groups—and if I may add, the sharing of photographs, some shots of which were totally priceless…and indeed, hilarious.
Parting Ways
It was a formal meeting that brought us together, but it was music that sealed the bond of friendship at the close of the course.
Fingering through the keyboard of Hotel Ambhara’s (our home for the entire fortnight) grand piano, singing songs during waiting moments, and daring without batting an eyelash to push aside the likes of Celine Dion, Phil Collins, James Ingram, Whitney Houston, plus of course the unforgettable Ricky Martin, and the rest of “that lot” we call “top caliber singers with a K”—while enjoying Indonesia’s best beer, Bintang, all sixteen of IIJ’s alumni for the August-September Class of 2008 found ourselves in harmony. We had to concede, that despite the differences we had in personal and cultural background, in journalism experience, and even in personalities, we blended well as a team of learners.
Our memories of the InWEnt-ASEAN experience will never be complete without mentioning Martin (whose knowledge of Southeast Asia was impeccable, making me think of him as the epitome of an Asianized German or European; someone kidded he was the Asian euro), Andrea (who really brought us back to journalism school), Alexandra (a stunningly beautiful person inside and out), and Ikram (a wonderful fellow PECOJON alumnus). I personally also express warm gratitude to Ajie Akhmad Wahidin, Programme Officer of the ASEAN Foundation, Wuri Parmaitri, Technical Assistant of the Public Affairs Office, and most especially, Tran Dong Phuong, Director of the Trade and Facilitation Cluster of the Bureau of Economic Integration and Finance, Aveline Low Bee Hui, Senior Officer in the Public Affairs Office all of the ASEAN Secretariat (who arranged my interview, thank you), for the distinctively hospitable Southeast Asian assistance.
Parting ways was most difficult, since we exchanged business cards on Day 1, with mouthful attempts to read our names, and even figuring out which was our first name, and our surname.
As we spent our last day together, completing the course, we all made a toast to our new-found friendship. It would probably be long before we would be together again as a class—and only InWEnt and the Federal Republic of Germany can make that possible.
As I bring this page to a close, I toast to a possible reunion in the future, along with my wishes that unlike our stories, the bond of our friendship will never sign off, nor reach -30-. (Frencie L. Carreon)
The two-week journalism course that I recently completed in Jakarta is one of those challenging and definitely great learning episodes. Today’s feature sums up the experience, and brushes aside questions on where I had been, and perhaps speculations on alleged resignation from Zamboanga Today—a thought I wouldn’t even entertain, especially since I’ve been part of the newspaper a year since it was born.
Indeed, this is an overdue semi-travelogue from an alumna of the International Institute for Journalism of InWEnt, whose “professional schooling” so to speak, on Reporting on Regional Integration in Southeast Asia—History, Institutions and Policies of ASEAN, was made possible by the Federal Foreign Office on behalf of the Government of the Federal Republic of Germany.
Sixteen Smiles
There were 16 of us in the class—myself of Zamboanga Today and Allen Sam Estabillo of MindaNews from the Philippines; Boon Eong Leslie Koh and Kian Beng Kor of The Straits Times from Singapore; Muhammad Khairul Anwar Ismail of The Borneo Post from Brunei Darusallam; Meysan Sotheary of Women’s Media Centre of Cambodia, Nhean Moeun of The Cambodian Scene Magazine, and Samnang Bo of APSARA TV and Radio Station from Cambodia; Phonesavanh Sangsomboun of Vientiane Times and the Lao Press in Foreign Languages from Laos; Nguyen Thi Thu Huyen of Vietnam Business Forum Magazine, Vu Thu Ha of Viet Nam News, and Pham Vu Van of Thanhnien Newspaper from Vietnam; Herning Banirestu of Swa Magazine, Masjidi Amin of Hidayatullah Magazine, and Trufi Murdiani of Radar Lampung from Indonesia; and Kittipong Thavevong of The Nation from Thailand.
The organizer, InWEnt, sent who I would describe as its well-chosen ambassadress, Alexandra Klawitter all the way from Frankfurt, Germany, and she was assisted in Indonesia by Ikram Putra of The Jakarta Post. Both were splendidly organized and most helpful to the letter.
The Course
The two-week training course was for journalists from print and online media based in Member States of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). The IIJ programme is “conducted in co-operation with the ASEAN Secretariat and is part of a capacity building project that aims at strengthening the process of regional integration and the role of the ASEAN Secretariat as a coordinating institution to help facilitate effective decision-making within and amongst ASEAN bodies… In addition, the programme enables the exchange of journalists from various ASEAN member states and gives the opportunity for regional and national networking. It lays the foundation for a further component of an IIJ alumni programme focusing on issues of regional integration.” (Source: InWEnt)
InWEnt – Qualified to Shape the Future
“InWEnt – Capacity Building International, Germany, is a non-profit organisation with worldwide operations dedicated to human resource development, advanced training, and dialogue. Our capacity building programmes are directed at experts and executives from politics, administration, the business community, and civil society.” (Source: InWEnt)
International Institute for Journalism
“The International Institute for Journalism (IIJ) of InWEnt–Capacity Building International, Germany, has been offering advanced training for print and news agency journalists from developing and transitional countries since 1964. In recent times, special courses for online journalists have been added to the training scheme.
The aim of the courses is to strengthen the press freedom in the partner countries of the German development co-operation and thus improve the conditions for democratisation and social and economic development. In this capacity, the IIJ represents a key pillar in the media development work of the Federal Government of Germany.” (Source: InWEnt)
The Lecturers
Our trainers were Dr. Martin Loffelholz and Ms. Andrea Thalemann.
Dr. Loffelholz is “Chair of the Department of Media Studies, Director of the International Crisis Communication Research Group at Ilmenau University of Technology, and Chairman of RECODE, a consulting company based at Erfurt (Germany). Since his first stay in Asia in 1980, Dr. Loffelholz has lived and worked more than ten years in various Southeast Asian countries, particularly in Cambodia, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand, and Vietnam. He studied at the University of Munster (specializing in journalism and intercultural communication). From 1981 to 1988, he worked as news editor at daily newspapers in Germany and Sri Lanka, the German Press Agency (dpa) and as TV and radio reporter at Westdeutscher Rundfunk, Cologne. After earning his Ph.D., he has taught at universities in Germany, Indonesia, Philppines, and the United States of America. He participates frequently in the German-Arab and the German-Indonesian Media Dialogues organized by the German Federal Foreign Office.
Ms. Thalemann has been covering global business, trade and European Union issues for print, radio and television media in Asia, Eastern Europe and Western Europe for 14 years. She holds a Master of Science in Journalism from the Graduate School of Journalism at Columbia University, New York, a diploma in Southeast Asian and development studies from the Freie Universitat Berlin; a Reuters Fellowship from the University of Oxford, U.K., and a Master of Philosophy in Musicology from the University of Cambridge, U.K. Andrea has worked as a correspondent in Bangkok, Thailand, and Budapest, Hungary, for Asia Times, the first global Asian-owned, English language business newspaper, covering international business summits of ASEAN, APEG, and ASEM, Asian foreign policy and Asian investment in Eastern Europe. Following the Asian Financial Crisis in 1997, Andrea set up an award-winning feature programme on globalization for the English Service of the Deutsche Welle Radio. She then moved to France where she was editor at EuroNews Television in Lyon and won a Reuters Fellowship for her work. In 2002, she relocated to Brussels, Belgium, to set up EUi Media, a subscription-based publishing company focusing on EU regulatory affairs with readers in government, industry and legal practice all over the world. Andrea has been a trainer at the International Institute for Journalism of InWEnt for six years. In addition to teaching courses on the WTO and global trade, she is the lead tutor of the IIJ’s six-month online training course, ‘Economy and Financial Reporting’ and has developed an e-learning course on European and Asian trade relations.” (Source: InWEnt)
ASEAN as a Learning ‘Coverage’The Association of Southeast Nations (ASEAN) is per se not a new subject for me to read about. Philippine Information Agency Undersecretary Leo Omoso has been very diligent in sending me media releases on ASEAN news. Gauging from the expressed remarks of my classmates, I thought that I had just a little more readings (yet, hardly enough) on ASEAN news than the rest of them did. But just like most of them, I also came in ‘zero’ when it came to ASEAN reporting.
The ASEAN Secretariat, as a partner of IIJ, was most enlightening. To begin with, ASEAN Secretary-General Dr. Surin Pitsuwan accommodated us well, answering the queries of a few of us who were fortunate to have been able to bring up issues with him. (My concerns were on ASEAN’s state of regional security and where the United States stood at the ASEAN—a separate feature, I’d say.) In addition, the ASEAN Secretariat sent over as resource speakers for our learning sessions Dr. Thermsak Charlermpalanupap, Special Assistant to the Secretary-General; Mr. Quang Anh Le, Assistant Director of the Bureau for Economic Integration and Finance; Ms. Carla Budiarto, Senior Officer of the Research and Information System Unit; ASEAN Foundation Executive Director Dr. Filemon Uriarte, Jr.; then Assistant Director of the Bureau of External Relations Coordination Raul Cordenillo.
Two practicing media colleagues addressed us in two separate occasions. Professor Danilo Arao of the University of the Philippines College of Mass Communications provided an assessment of the ASEAN media, and his comparative notes opened insights to all of us participants—and also opened avenues of discussion in the succeeding days during breaks. Jakarta-based Moritz Kleine-Brockhoff, Southeast Asia correspondent of the Frankfurter Rundschau, shared his media experiences and observation of ASEAN from a European journalist’s perspective.
The World Food Program sent over the country director for Indonesia, Ms. Angela Van Rynbach, who discussed food security in the ASEAN region.
We also had one great opportunity in visiting the headquarters of the European Commission to Indonesia, where we had an interview with Cecile Leroy, its policy advisor, and project officer, Economic and Regional Cooperation of the European Union’s Delegation of the European Commission to Indonesia and Brunei Darussalam, as well as a learning session on the trade relations between ASEAN and the European Union with Asa Larsson, trade adviser in the Economic and Trade Section of the European Union’s Delegation of the European Commission to Indonesia, Brunei Darussalam and East Timor.
Each speaker laid down before us rich fields of information on ASEAN, or relative to ASEAN, most of which are worth sharing to all readers.
In our visit to The Jakarta Post, we were welcomed by Meidyatama Suryodiningrat, its managing editor, who briefly and comprehensively shared with us 25 years of newspaper journalism.
Within the duration of the training, some of us found ourselves “working from overseas” as we sent stories all datelined Jakarta. A few of us did share that these got published or aired while the training was going on, but we admitted as well that there was more reporting to do now that we are all home.
Learning from the Tours
The guided as well as our exploratory tours in Indonesia were the add-ons to the training course, but these provided the opportunities for all sixteen of us to get to know each other, and learn about our respective cultures. Some of us blended well with the others, and some who were initially reserved and shy, if not critical, somehow found ourselves feeling relaxed and comfortable (as expected) by the second week.
A few tours (to include shopping) were a little exhausting, but the laughter that went along with each ‘togetherness’ came as the best relief for the tiredness, if not boredom brought about by the dreaded traffic jam.
The tours essentially showcased some of the best of Indonesia—although we also couldn’t help having a glimpse of its worst (traffic jam, population, and even economy). However, Indonesia, being the seat of ASEAN, and its people being Southeast Asians whose culture bore a lot of similarities with ours here in the Philippines, was the best location for the training.
I couldn’t bear the chilis and the hot sauces that were essentially Indonesian and Thai cuisine, but the Japanese, Chinese, and Italian food (and yes, The Colonel was there—thank God for Kentucky Fried Chicken!) were a great help to stuff us up.
Among the great perks too were the sneaky trips that some of us did whether individually or in smaller groups—and if I may add, the sharing of photographs, some shots of which were totally priceless…and indeed, hilarious.
Parting Ways
It was a formal meeting that brought us together, but it was music that sealed the bond of friendship at the close of the course.
Fingering through the keyboard of Hotel Ambhara’s (our home for the entire fortnight) grand piano, singing songs during waiting moments, and daring without batting an eyelash to push aside the likes of Celine Dion, Phil Collins, James Ingram, Whitney Houston, plus of course the unforgettable Ricky Martin, and the rest of “that lot” we call “top caliber singers with a K”—while enjoying Indonesia’s best beer, Bintang, all sixteen of IIJ’s alumni for the August-September Class of 2008 found ourselves in harmony. We had to concede, that despite the differences we had in personal and cultural background, in journalism experience, and even in personalities, we blended well as a team of learners.
Our memories of the InWEnt-ASEAN experience will never be complete without mentioning Martin (whose knowledge of Southeast Asia was impeccable, making me think of him as the epitome of an Asianized German or European; someone kidded he was the Asian euro), Andrea (who really brought us back to journalism school), Alexandra (a stunningly beautiful person inside and out), and Ikram (a wonderful fellow PECOJON alumnus). I personally also express warm gratitude to Ajie Akhmad Wahidin, Programme Officer of the ASEAN Foundation, Wuri Parmaitri, Technical Assistant of the Public Affairs Office, and most especially, Tran Dong Phuong, Director of the Trade and Facilitation Cluster of the Bureau of Economic Integration and Finance, Aveline Low Bee Hui, Senior Officer in the Public Affairs Office all of the ASEAN Secretariat (who arranged my interview, thank you), for the distinctively hospitable Southeast Asian assistance.
Parting ways was most difficult, since we exchanged business cards on Day 1, with mouthful attempts to read our names, and even figuring out which was our first name, and our surname.
As we spent our last day together, completing the course, we all made a toast to our new-found friendship. It would probably be long before we would be together again as a class—and only InWEnt and the Federal Republic of Germany can make that possible.
As I bring this page to a close, I toast to a possible reunion in the future, along with my wishes that unlike our stories, the bond of our friendship will never sign off, nor reach -30-. (Frencie L. Carreon)
A Pray for Azzurri Dianis Maximus

Fajar belum lagi menyingsing, tapi seperti rutinitas terjadwal setiap harinya, Selasa 21 Juli 2015 ini Azzurri Dianis Maximus juga telah terbagun dari lelapnya sejak dinihari. Kutatap telaga bening di bola matanya pagi ini.
Di hari ia genap berusia 3 tahun, yang dalam dunia per-ASI Eksklusif-an sudah setara sebagai seorang professor (0-6 bulan ASI Eks = S-1, 12 bulan ASI-X lulus S-2/Master, 2 tahun ASI-X lulus S-3/PhD, jadi dalam versiku, aku menyematkan gelar professor saat Max sudah 3 tahun).
Dan, itu adalah hari ini. Ya, hari ini, 21 Juli 2015, my baby balla-balla, putra kebanggaanku, Max genap berusia 3 tahun. Beberapa hari lalu dia berkata, "Mamma, kata aunty teacher kaka ini cerdas." Kutatap wajah teduhnya yang begitu menyejukkan, lalu kukatakan, "Engkau memang cerdas anakku sayang. Dan, kau akan makin berjaya bila akhlakmu juga bagus. Jadi Kaka Max harus terus berusaha agar kecerdasan intelektualmu setara dengan ahlak muliamu sebagai lelaki.
Ia mengangguk dan memelukku hangat. Sungguh, ia benar-benar permata yang memberi kebahagiaan terindah. Ia selalu tahu bagaimana membunuh kecemasan dan kegelisahanku. Setiap kulihat tarikan napasnya yang lembut, juga tiap sudut tubuhnya yang begitu cepat tumbuh besar hingga menyiratkan kelak ia akan tumbuh sebagai pria gagah perkasa, penuh bijaksana lagi bertanggung jawab pada anak-istrinya, maka ada keharuan luar biasa di situ.
Ya Allah, alangkah maha baiknya Engkau. Aku mohon padaMu, bimbing aku, bersamaku, menemaniku untuk berjuang keras membesarkan, mendidik, membimbing dan menjaga putra mahkotaku agar menjadi pria dewasa yang salih, takwa, lembut hatinya pada kebenaranMu, dan tercukupi segala kebutuhan zahir maupun batinnya hingga akhir hayatnya kelak.
Wahai Zat yang maha lembut, mohon jagalah kami berdua untuk selalu dalam perlindungan yang Maha Perkasa, terjaga dari orang-orang yang zalim dan aniaya, bencana yang mengintai, serta terpenuhi segala hajat kami di jalanMu. Aamiin.........
Monday, July 13, 2015
Berpetualang Seru Ala Backpacker di Manila (Part 3/End)
When Ancient and Modern Collide
PADA bagian terakhir dari tulisan features ini, penulis akan bercerita tentang sisi-sisi lain yang berhubungan dengan kuliner, bahasa, pendidikan dan komunitas muslim di Filipina khususnya Kota Manila. Sisi kuno dan masih di “bawah garis” tampak jelas di kawasan penduduk muslim Manila sementara wilayah modern, pusat perbelanjaan dan kampus swasta yang mewah menjadi ikonik lain dari wajah Manila. Begitulah kota ini, perpaduan antara yang kuno dan modern menjadikannya kota yang unik. Tata Kota dan Pemukiman Muslim
Tidak seperti kota-kota besar lain, penamaan kota/distrik di Manila agak unik. Metro Manila sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa distrik. Pemerintah daerah dan warga Manila menyebut distrik sebagai city. Ada Manila City, Makati City, Pasig City, Quezon City, Caloocan, Las Pinas, Malabon, Mandaluyong, Marikina, Muntinlupa, Navotas, Paranaque, Pateros, San Juan, Taguig dan Valenzuela City. Kendati dibilang city, sebenarnya luasnya hanya setara dengan kecamatan di Jakarta, bahkan ada yang lebih kecil lagi. Dari sekian banyak district itu, Makati City merupakan Central Business District dengan tata kota paling rapi.
Di Makati inilah berdiri perkantoran dengan gedung-gedung menjulang tinggi, hotel berbintang, shopping malls, dan tentu saja banyak apartment. Makati ini memang distrik yang dikembangkan khusus oleh pengembang di sana, jadi sangat berbeda penampilannya dibandingkan dengan distrik-distrik lain. Seperti telah dipaparkan pada edisi lalu tentang Intramuros, ini juga salah satu distrik di Manila. Intramuros yang merupakan cikal-bakal kota Manila bahkan dulunya adalah Manila itu sendiri merupakan suatu daerah yang dibuka dan dikembangkan oleh Raja Sulaiman. Raja ini adalah seorang muslim. Dan, sisa-sisa peninggalan masa kejayaan wilayah muslim di sekitar Intramuros masih tampak jelas hingga sekarang.
Pemukiman muslim tetap berdiri dan bertahan di dekat Intramuros. Sayangnya pemukiman muslim dengan penduduk Islam yang asli warga Filipina di Manila ini tampak kumuh dan kurang tertata baik. Kondisi warganya juga tampak kurang terpelajar. Ini terbukti dari bahasa sehari-hari mereka yang hanya menguasai bahasa Tagalog (bahasa resmi pendidikan di Filipina adalah Bahasa Inggris) dan pekerjaan yang umumnya dilakukan warga muslim di sekitar Intramuros.
Warga muslim Intramuros hanya bisa menjadi pekerja kasar atau paling tinggi berdagang itupun kalau punya modal. Karena umumnya mereka tidak sekolah atau hanya tamatan SD. Warung-warung kelontong atau kedai makanan halal milik warga muslim juga banyak yang menjajakan makanan khas dari Indonesia. Bahkan Indomie mudah dijumpai kendati harganya sudah selangit. Di kawasan muslim Intramuros ada sebuah masjid besar yang lokasinya masuk di pemukiman warga. Di masjid inilah anak-anak warga muslim belajar mengaji sekaligus dasar-dasar calistung. Jadi, karena keterbatasan biaya orangtuanya dalam menyekolahkan anak, mereka sudah terbantu dengan telah belajar membaca di masjid.
Kuliner dan Suvenir
Banyak jenis-jenis makanan Filipina yang mirip makanan nusantara.
Halo-halo
Halo-halo adalah es campur khas Filipina. Dalam bahasa Tagalog, halo berarti campur. Mirip es shanghai kalau di Indonesia, halo-halo juga berisi banyak campuran dengan topping scoop ice cream. Isinya agar-agar warna-warni cerah yang dipotong dadu, kolang-kaling, pacar cina, umbi, kacang merah, pisang dan nangka. Ciri khasnya ada di topping-nya, yaitu ube ice cream. Ube dalam bahasa Tagalog berarti ubi (biasanya ubi ungu). Umumnya halo-halo disajikan dalam sebuah mangkuk atau wadah khas dessert yang transparan. Harga per porsinya, jika beli di restoran atau café mewah sekitar 50 peso, tapi di kantin kampus tempat penulis kuliah yakni Ateneo De Manila University cuma 25 peso, sangat reasonable untuk kantong mahasiswa.
Puto
Puto termasuk snack tradisional khas Filipina yang memasyarakat. Makanan ini juga sangat famous di Indonesia. Kalau di sini dikenal dengan nama kue apem, namun di Filipina puto dikonsumsi tidak dengan parutan kelapa muda. Panganan tradisional dari tepung beras yang berwarna-warni ini dimakan begitu saja sebagai cemilan. Mendapatkannya mudah karena banyak dijual di kedai-kedai oleh-oleh di jalanan terutama di Provinsi Pangasinan yang berada di sebelah Utara Pulau Luzon.
Balut dan Tokneneng
Dalam beberapa dialek di Filipina, ada yang menyebutnya Balot. Dari akar kata yang sama dengan bahasa Melayu, balut, yakni membalut atau pembalut (wrapped). Karena makanan ini memang dibalut adonan tepung. Makanan ini terkenal karena keekstremannya, yakni berasal dari telur bebek dengan embrio setengah jadi.
Saya termasuk lama tinggal di Filipina, tetapi sampai saya lulus tetap tidak pernah menemukan balut yang benar-benar terbuat dari telur dengan embrio bebek di dalamnya. Namun karena saya seorang muslim, maka balut tidak benar-benar masuk dalam daftar the must eat foods saya. Selama saya kuliah di Manila, hanya tokneneng yang banyak dijajakan oleh pedagang di pinggiran jalan. Termasuk di sekitar tempat saya tinggal di Regina Residence, di Xavierville Avenue.
Tokneneng adalah makanan gurih dari telur ayam yang direbus lalu dibalut dengan adonan tepung berwarna oranye dan digoreng. Mengonsumsinya dengan cocolan kuah asam manis yang diberi topping irisan ketimun. Mirip dengan cuko pempek. Karena rasanya yang lezat dan harganya yang terjangkau, jadilah saya sering membelinya sebagai pembalut mulut sekaligus pengganjal perut.
Binondo
Binondo sebenarnya adalah nama daerah atau area di dalam kawasan Chinatown. Karena di sini ada salah satu restoran yang menyediakan makanan khas pecinan dengan nama yang sama yakni Binondo maka orang-orang menyebut makanan ini juga dengan istilah Binondo.
Yakni makanan khas daerah pecinan di Manila yang berisi mie dan kuah seperti sup. Rasanya sangat lezat dan khas, mirip dengan sup tom yam dari Thailand. Disajikan saat hangat dengan berbagai jenis sambal plus cabe merah kering bubuk. Cocok untuk appetizer saat cuaca dingin.
Barong Tagalog
Barong Tagalog adalah kain tekstil khas Filipina. Biasanya dijual sudah dalam bentuk busana siap pakai. Baik untuk pakaian pria, wanita maupun untuk anak-anak. Busana dari bahan ini menjadi busana resmi nasional seperti kebaya dan batik kalau di Indonesia. Biasanya digunakan pada acara-acara resmi, seminar, menghadiri resepsi pernikahan kerabat dan lainnya.
Bahannya sangat tipis, transparan dan keras/kaku, mirip dengan bahan kain shantung namun lebih tipis. Warna yang paling umum untuk pakaian nasional kaum pria adalah putih atau krem. Dengan model yang umum kemeja lengan panjang dan kerah shanghai mirip baju koko. Sedangkan model untuk busana wanita lebih beragam, modern dan sudah banyak dimodifikasi. Pakaian dari bahan ini menjadi salah satu souvenir utama yang dibeli penunjung mancanegara.
Selain itu, ada berbagai suvenir khas lainnya dengan harga yang juga variatif. Misalnya gantungan kunci, magnet kulkas, hiasan dinding, T-shirt dan lainnya. Pendidikan dan Bahasa Secara umum, sistem pendidikan di Filipina mirip dengan di Indonesia. Dimulai dari tingkat TK, SD hingga high school dan perguruan tinggi. Namun berbeda dengan di sini, bahasa pengantar pendidikan di Filipina adalah Bahasa Inggris. Ateneo De Manila University (ADMU) Universitas swasta ini sudah berdiri sejak zaman kolonial Spanyol dan dikelola Perkumpulan Gereja Katolik Spanyol pada saat itu.
Hingga kini ADMU telah berusia 152 tahun dan dies natalisnya dirayakan setiap bulan Desember. Ciri khas kampus ini, setiap pagi pukul 8.30 waktu setempat (waktu Manila lebih dahulu satu jam dari WIB atau sama dengan WITA, Red) diputarkan Philippines Anthem dan semua orang terutama mahasiswa termasuk mahasiswa asing harus berdiri tegak dalam posisi siap.
Warga negara setempat bahkan meletakkan telapak tangan kanannya di dada kiri sepanjang lagu kebangsaan mereka itu diperdengarkan. Dari segi palayanan, di kampus ini ada vending machine untuk minuman dan snack. University of Philippines (UP) Jika ADMU sejajar dengan Universitas Trisaksi-nya Filipina maka UP adalah UI-nya. Ya, UP adalah univesitas negeri tertua, terbesar dan, of course, terfavorit di Filipina. Letak kampusnya tak jauh dari ADMU. Hanya satu kali naik angkot bisa sampai di kampus ini. Bahasa Tagalog Tagalog merupakan bahasa daerah yang paling banyak dipakai warga di Filipina.
Tapi bahasa Inggris juga cukup luas digunakan terutama di perkotaan. Beberapa kata ternyata sama dengan Bahasa Indonesia/Melayu, ada yang sama persis sesuai artinya atau memiliki arti berbeda.
Beberapa kata sederhana dalam bahasa Tagalog yang mirip bahasa Indonesia yakni:
- Anak = anak
- Mahal = mahal
- Payong = payung
- Sapato = sepatu
- Kanan = kanan
- Sayang = sayang
Sementara kalimat-kalimat sederhana yang umum dipakai sehari-hari, seperti:
• Magandang umaga po (Selamat pagi)
• Magandang tanghali po (Selamat siang)
• Magandang papon po (Selamat sore)
• Magandang gabi po (Selamat malam)
• Kumusta po kayo (Apa kabar)
• Mabuti po naman (Saya baik-baik saja)
• Tuloy po kayo (Silakan datang lagi)
• Salamat (Terima kasih)
• Mahal kita (Aku cinta kamu)
• Maraming salamat (Terima kasih banyak)
• Opo/oho (Ya)
• Hindi (Tidak)
• Hindi ko po/ho alam (Saya tidak tahu). (tamat)
PADA bagian terakhir dari tulisan features ini, penulis akan bercerita tentang sisi-sisi lain yang berhubungan dengan kuliner, bahasa, pendidikan dan komunitas muslim di Filipina khususnya Kota Manila. Sisi kuno dan masih di “bawah garis” tampak jelas di kawasan penduduk muslim Manila sementara wilayah modern, pusat perbelanjaan dan kampus swasta yang mewah menjadi ikonik lain dari wajah Manila. Begitulah kota ini, perpaduan antara yang kuno dan modern menjadikannya kota yang unik. Tata Kota dan Pemukiman Muslim
Tidak seperti kota-kota besar lain, penamaan kota/distrik di Manila agak unik. Metro Manila sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa distrik. Pemerintah daerah dan warga Manila menyebut distrik sebagai city. Ada Manila City, Makati City, Pasig City, Quezon City, Caloocan, Las Pinas, Malabon, Mandaluyong, Marikina, Muntinlupa, Navotas, Paranaque, Pateros, San Juan, Taguig dan Valenzuela City. Kendati dibilang city, sebenarnya luasnya hanya setara dengan kecamatan di Jakarta, bahkan ada yang lebih kecil lagi. Dari sekian banyak district itu, Makati City merupakan Central Business District dengan tata kota paling rapi.
Di Makati inilah berdiri perkantoran dengan gedung-gedung menjulang tinggi, hotel berbintang, shopping malls, dan tentu saja banyak apartment. Makati ini memang distrik yang dikembangkan khusus oleh pengembang di sana, jadi sangat berbeda penampilannya dibandingkan dengan distrik-distrik lain. Seperti telah dipaparkan pada edisi lalu tentang Intramuros, ini juga salah satu distrik di Manila. Intramuros yang merupakan cikal-bakal kota Manila bahkan dulunya adalah Manila itu sendiri merupakan suatu daerah yang dibuka dan dikembangkan oleh Raja Sulaiman. Raja ini adalah seorang muslim. Dan, sisa-sisa peninggalan masa kejayaan wilayah muslim di sekitar Intramuros masih tampak jelas hingga sekarang.
Pemukiman muslim tetap berdiri dan bertahan di dekat Intramuros. Sayangnya pemukiman muslim dengan penduduk Islam yang asli warga Filipina di Manila ini tampak kumuh dan kurang tertata baik. Kondisi warganya juga tampak kurang terpelajar. Ini terbukti dari bahasa sehari-hari mereka yang hanya menguasai bahasa Tagalog (bahasa resmi pendidikan di Filipina adalah Bahasa Inggris) dan pekerjaan yang umumnya dilakukan warga muslim di sekitar Intramuros.
Warga muslim Intramuros hanya bisa menjadi pekerja kasar atau paling tinggi berdagang itupun kalau punya modal. Karena umumnya mereka tidak sekolah atau hanya tamatan SD. Warung-warung kelontong atau kedai makanan halal milik warga muslim juga banyak yang menjajakan makanan khas dari Indonesia. Bahkan Indomie mudah dijumpai kendati harganya sudah selangit. Di kawasan muslim Intramuros ada sebuah masjid besar yang lokasinya masuk di pemukiman warga. Di masjid inilah anak-anak warga muslim belajar mengaji sekaligus dasar-dasar calistung. Jadi, karena keterbatasan biaya orangtuanya dalam menyekolahkan anak, mereka sudah terbantu dengan telah belajar membaca di masjid.
Kuliner dan Suvenir
Banyak jenis-jenis makanan Filipina yang mirip makanan nusantara.
Halo-halo

Halo-halo adalah es campur khas Filipina. Dalam bahasa Tagalog, halo berarti campur. Mirip es shanghai kalau di Indonesia, halo-halo juga berisi banyak campuran dengan topping scoop ice cream. Isinya agar-agar warna-warni cerah yang dipotong dadu, kolang-kaling, pacar cina, umbi, kacang merah, pisang dan nangka. Ciri khasnya ada di topping-nya, yaitu ube ice cream. Ube dalam bahasa Tagalog berarti ubi (biasanya ubi ungu). Umumnya halo-halo disajikan dalam sebuah mangkuk atau wadah khas dessert yang transparan. Harga per porsinya, jika beli di restoran atau café mewah sekitar 50 peso, tapi di kantin kampus tempat penulis kuliah yakni Ateneo De Manila University cuma 25 peso, sangat reasonable untuk kantong mahasiswa.
Puto

Puto termasuk snack tradisional khas Filipina yang memasyarakat. Makanan ini juga sangat famous di Indonesia. Kalau di sini dikenal dengan nama kue apem, namun di Filipina puto dikonsumsi tidak dengan parutan kelapa muda. Panganan tradisional dari tepung beras yang berwarna-warni ini dimakan begitu saja sebagai cemilan. Mendapatkannya mudah karena banyak dijual di kedai-kedai oleh-oleh di jalanan terutama di Provinsi Pangasinan yang berada di sebelah Utara Pulau Luzon.
Balut dan Tokneneng
Dalam beberapa dialek di Filipina, ada yang menyebutnya Balot. Dari akar kata yang sama dengan bahasa Melayu, balut, yakni membalut atau pembalut (wrapped). Karena makanan ini memang dibalut adonan tepung. Makanan ini terkenal karena keekstremannya, yakni berasal dari telur bebek dengan embrio setengah jadi.
Saya termasuk lama tinggal di Filipina, tetapi sampai saya lulus tetap tidak pernah menemukan balut yang benar-benar terbuat dari telur dengan embrio bebek di dalamnya. Namun karena saya seorang muslim, maka balut tidak benar-benar masuk dalam daftar the must eat foods saya. Selama saya kuliah di Manila, hanya tokneneng yang banyak dijajakan oleh pedagang di pinggiran jalan. Termasuk di sekitar tempat saya tinggal di Regina Residence, di Xavierville Avenue.
Tokneneng adalah makanan gurih dari telur ayam yang direbus lalu dibalut dengan adonan tepung berwarna oranye dan digoreng. Mengonsumsinya dengan cocolan kuah asam manis yang diberi topping irisan ketimun. Mirip dengan cuko pempek. Karena rasanya yang lezat dan harganya yang terjangkau, jadilah saya sering membelinya sebagai pembalut mulut sekaligus pengganjal perut.
Binondo
Binondo sebenarnya adalah nama daerah atau area di dalam kawasan Chinatown. Karena di sini ada salah satu restoran yang menyediakan makanan khas pecinan dengan nama yang sama yakni Binondo maka orang-orang menyebut makanan ini juga dengan istilah Binondo.
Yakni makanan khas daerah pecinan di Manila yang berisi mie dan kuah seperti sup. Rasanya sangat lezat dan khas, mirip dengan sup tom yam dari Thailand. Disajikan saat hangat dengan berbagai jenis sambal plus cabe merah kering bubuk. Cocok untuk appetizer saat cuaca dingin.
Barong Tagalog
Barong Tagalog adalah kain tekstil khas Filipina. Biasanya dijual sudah dalam bentuk busana siap pakai. Baik untuk pakaian pria, wanita maupun untuk anak-anak. Busana dari bahan ini menjadi busana resmi nasional seperti kebaya dan batik kalau di Indonesia. Biasanya digunakan pada acara-acara resmi, seminar, menghadiri resepsi pernikahan kerabat dan lainnya.
Bahannya sangat tipis, transparan dan keras/kaku, mirip dengan bahan kain shantung namun lebih tipis. Warna yang paling umum untuk pakaian nasional kaum pria adalah putih atau krem. Dengan model yang umum kemeja lengan panjang dan kerah shanghai mirip baju koko. Sedangkan model untuk busana wanita lebih beragam, modern dan sudah banyak dimodifikasi. Pakaian dari bahan ini menjadi salah satu souvenir utama yang dibeli penunjung mancanegara.
Selain itu, ada berbagai suvenir khas lainnya dengan harga yang juga variatif. Misalnya gantungan kunci, magnet kulkas, hiasan dinding, T-shirt dan lainnya. Pendidikan dan Bahasa Secara umum, sistem pendidikan di Filipina mirip dengan di Indonesia. Dimulai dari tingkat TK, SD hingga high school dan perguruan tinggi. Namun berbeda dengan di sini, bahasa pengantar pendidikan di Filipina adalah Bahasa Inggris. Ateneo De Manila University (ADMU) Universitas swasta ini sudah berdiri sejak zaman kolonial Spanyol dan dikelola Perkumpulan Gereja Katolik Spanyol pada saat itu.
Hingga kini ADMU telah berusia 152 tahun dan dies natalisnya dirayakan setiap bulan Desember. Ciri khas kampus ini, setiap pagi pukul 8.30 waktu setempat (waktu Manila lebih dahulu satu jam dari WIB atau sama dengan WITA, Red) diputarkan Philippines Anthem dan semua orang terutama mahasiswa termasuk mahasiswa asing harus berdiri tegak dalam posisi siap.
Warga negara setempat bahkan meletakkan telapak tangan kanannya di dada kiri sepanjang lagu kebangsaan mereka itu diperdengarkan. Dari segi palayanan, di kampus ini ada vending machine untuk minuman dan snack. University of Philippines (UP) Jika ADMU sejajar dengan Universitas Trisaksi-nya Filipina maka UP adalah UI-nya. Ya, UP adalah univesitas negeri tertua, terbesar dan, of course, terfavorit di Filipina. Letak kampusnya tak jauh dari ADMU. Hanya satu kali naik angkot bisa sampai di kampus ini. Bahasa Tagalog Tagalog merupakan bahasa daerah yang paling banyak dipakai warga di Filipina.
Tapi bahasa Inggris juga cukup luas digunakan terutama di perkotaan. Beberapa kata ternyata sama dengan Bahasa Indonesia/Melayu, ada yang sama persis sesuai artinya atau memiliki arti berbeda.
Beberapa kata sederhana dalam bahasa Tagalog yang mirip bahasa Indonesia yakni:
- Anak = anak
- Mahal = mahal
- Payong = payung
- Sapato = sepatu
- Kanan = kanan
- Sayang = sayang
Sementara kalimat-kalimat sederhana yang umum dipakai sehari-hari, seperti:
• Magandang umaga po (Selamat pagi)
• Magandang tanghali po (Selamat siang)
• Magandang papon po (Selamat sore)
• Magandang gabi po (Selamat malam)
• Kumusta po kayo (Apa kabar)
• Mabuti po naman (Saya baik-baik saja)
• Tuloy po kayo (Silakan datang lagi)
• Salamat (Terima kasih)
• Mahal kita (Aku cinta kamu)
• Maraming salamat (Terima kasih banyak)
• Opo/oho (Ya)
• Hindi (Tidak)
• Hindi ko po/ho alam (Saya tidak tahu). (tamat)
Berpetualang Seru Ala Backpacker di Manila (Part 2)
It’s Fascinating To Enjoy Manila City Sightseeing
PADA bagian I, penulis telah bercerita tentang alat-alat transportasi yang dapat menemani berwisata di Metro Manila. Sementara tempat-tempat wisata yang masuk daftar the must visit places saat berada di Manila sangat variatif. Mulai dari bentuk bangunannya hingga jenis peruntukkannya.
Bangunan atau ikon-ikon wisata di Manila tersedia baik yang kuno maupun modern. Tempat wisata belanja maupun kulinernya juga beragam. Pada bagian ini penulis akan mengisahkan lokasi-lokasi yang layak dikunjungi pelancong saat melakukan city sightseeing maupun window shopping di Metro Manila.
Intramuros
Intramuros adalah distrik (kelurahan) tertua dan inti sejarah Manila, ibukota Filipina. Dikenal sebagai walled city karena kota mini ini dikelilingi tembok. Intramuros adalah pusat pemerintahan Spanyol selama periode kolonial Spanyol.
Bagian dalam tembok Manila disebut intramuros, yang dalam bahasa Latin berarti di dalam dinding. Sedangkan distrik di luar dinding dirujuk sebagai extramuros dari Manila, yang berarti di luar tembok. Pembangunan tembok atau dinding pertahanan ini dimulai oleh Spanyol pada abad ke-16 akhir untuk melindungi kota dari invasi asing.
Kota berdinding setinggi 6 meter dan panjang 3 kilometer ini pada awalnya terletak di sepanjang tepi Teluk Manila, di Selatan Sungai Pasig. Pada abad ke-20 sebagian sungai direklamasi dengan menambahkan dinding di sekitar teluk yang sekaligus untuk melindungi kota. Di bagian terluar kota dan dekat teluk dibangun Fort Santiago dan benteng pertahanan Spanyol di muara sungainya.
Fort Santiago
Bagi pelancong yang datang ke Manila, Fort Santiago yang berada di dalam kawasan Intramuros merupakan ikon utama yang wajib dikunjungi dan menjadi latar belakang berfoto selfie. Terutama pintu gerbangnya. Bagian belakang Fort adalah pantai.
Sebelum masa kolonial Spanyol, tempat ini adalah istana Rajah Soliman atau King Suleyman. Ia penemu sekaligus raja pertama di Manila dan seorang muslim, keturunan Melayu asal Filipina Selatan (daerah Moro sekarang).
Ikon lainnya adalah katedral dan eks gedung kantor gubernur jenderal semasa zaman pemerintahan Spanyol yang juga ada di dalam Intramuros. Berkeliling atau menikmati kegiatan Intramuros city sightseeing lebih leluasa dilakukan dengan menyewa delman.
Kendati bisa juga dengan taxi namun kurang mendapatkan gereget dan semangat tempo doeloe-nya. Sedangkan pilihan lainnya dengan tricycle yakni sejenik becak hanya saja dikedarai sepeda motor. Tapi penulis yang berwisata di Intramuros berdua teman kuliah asal Kualalumpur memilih menikmati kota kuno ini dengan delman.
Selain bisa ditunggu oleh kusirnya saat berfoto-foto selfie di ikon-ikon yang ada, juga bisa request untuk mengendarai kudanya sambil tetap di-tandem sang kusir. Suatu pengalaman yang langka namun tak terlupakan di Manila. Ikon pertama yang penulis kunjungi adalah katedral.
Setelah berfoto dan mengambil video sampai puas, dilanjutkan ke ikon-ikon lainnya. Untungnya si kusir bisa sekaligus menjadi tour guide dengan kemampuan Bahasa Inggris yang minim plus diselingi bahasa “Flinstone” di sana-sini. Kami berdua sesekali memintanya berbahasa Tagalog saja, demi melihatnya kesulitan berkomunikasi.
Sisi lain dari Intramuros yang tidak berdekatan dengan teluk adalah eks benteng pertahanan Spanyol. Di bagian ini dulunya ada banyak penjara, yang kini difungsikan sebagai kafe, toko buku maupun memorial. Lalu, Fort Santiago itu sendiri yang mana di dalamnya ada museum Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina.
Rizal adalah seorang dokter yang memiliki nasionalisme tinggi. Dia dihukum tembak oleh Penjajah Spanyol akibat pemikiran kritisnya yang pedas. Tempat ia dihukum tembak kini juga dijadikan memorial park, lengkap dengan patung-patung Rizal, para eksekutor dan tentara penjaganya. Sedangkan langkah-langkah kaki terakhir Rizal mulai dari penjara terakhir dia ditahan hingga ke tempat eksekusi diabadikan sebagai walk of fame.
Di dalam kamar di penjara tempat Rizal ditahan banyak tulisan yang konon memang ditulis tangan oleh Rizal dan kini setelah eks penjara itu menjadi museum ditulis ulang dengan metode pencahayaan semi-laser pada setiap hurufnya. Tulisan itu umumnya dalam bahasa Inggris dan Latin (Spanyol). Hampir tidak ada yang berbahasa Tagalog.
Malacanang Palace
Jika ingin menapaktilasi sejarah Filipina, Istana Malacanang-lah tempatnya. Salah satu bangunan paling bersejarah di Filipina ini berada di tepi Sungai Pasig dan beralamat di 1000 Jose P. Laurel Street, distrik San Miguel, Manila.
Istana yang menjadi kediaman resmi, namun bukan kediaman langsung dan tempat kerja utama Presiden Filipina ini dibangun sekitar tahun 1800 dan awalnya diperuntukkan bagi Gubernur Spanyol yang berdinas di Manila.
Berfoto selfie dengan latar belakang istana ini juga menjadi agenda wajib para backpacker mancanegara. Tapi, persiapkan dahulu kekuatan fisik karena untuk bisa mencapainya semua orang harus berjalan kaki sekitar 1 km dari tempat terakhir angkot atau taxi boleh berhenti.
Lady Imelda Marcos Shoes Museum
For better or for worse, people will always be wondered by the footwear of The Philippines' controversial former First Lady, Imelda Marcos, right? Maka berkunjunglah ke Museo ang Sapatos.
Lokasinya di daerah Marikina dan hanya buka saat hari kerja sedangkan di hari weekend museum ini tutup. Untuk bisa menuju museum ini setelah naik angkot maka dilanjutkan dengan tricycle. Tapi kami berdua saat itu memilih taksi karena alasan lebih nyaman dan adem.
Imelda Marcos pernah mengoleksi sekitar 3.000 pasang sepatu, tetapi dalam museum ini hanya ada 800 pasang sepatu koleksi pribadinya. Menurut museum guide-nya, sepatu koleksi lainnya menjadi milik pribadi sang ibu negara hingga akhir hayatnya. Koleksi yang ada di museum mulai dari jenis pantovel, stiletto, selop berhak, boots, sampai sepatu-sepatu hadiah dari negara-negara sahabat termasuk dari Ibu Tien Soeharto.
Ny. Imelda Remedios Trinidad Romualdez Marcos adalah janda mantan Presiden Filipina, Ferdinand E. Marcos. Dia menjadi ibu negara pada periode 30 Desember 1965 hingga 25 Februari 1986. Ny. Marcos lahir 2 Juli 1929 di San Juan, Manila. Orangtuanya adalah Vicente Orestes Lopez Romualdez (berdarah Spanyol) dari istri keduanya, seorang Filipina asli. Keluarga Marcos memiliki empat anak yaitu Maria Imelda Marcos, Ferdinand Marcos Jr., Irene Marcos dan Aimee Marcos yang diadopsi pada 1966.
China Town
Disebut juga Binondo. Berada di Ongpin Street, semua warga harus berjalan kaki di dalam lokasi pecinan ini. Toko-toko dan pemukimannya dipertahankan pada kondisi asli. Yakni pemukiman dan perniagaan warga Tiongkok yang sudah eksis sejak zaman sebelum Spanyol masuk.
Di sepanjang jalan banyak penjual barang-barang khas Tiongkok dan kebutuhan warga Tiongkok. Juga ada penjaja makanan khas seperti bapao. Toko obat tradisional China dan supermarket khas warga Chinese juga banyak tersedia.
Di dalam pecinan ini ada Bohay Tsinoy. Dalam akses Tagalog yang dibaca Bohay Cinoy, Cinoy atau Cino ya berarti China. Bohay Tsinoy adalah museum yang mendisplay seputar sejarah kedatangan bangsa China ke Filipina, penggambaran perjuangan mereka di rantau kala penjajahan Spanyol hingga saat mereka berhasil memperjuangkan perekonomian di negeri ini.
Dari Bohay Tsinoy diketahui, orang Cina-lah yang memiliki mesin cetak koran pertama di Filipina pada era sebelum Spanyol. Bagi orang Cina, mesin cetak koran sangat penting karena kunci menguasai dunia adalah informasi. Selain itu, membaca adalah pengetahuan dasar serta wajib yang diberikan kepada anak-anak mereka.
American Cemetary & Memorial Park
Selain dijajah Spanyol, Filipina juga pernah dijajah Amerika. Dan Manila American Cemetery and Memorial Park yang berada di Fort Bonifacio, Metro Manila seluas 62 hektare ini adalah kompleks makam tentara-tentara AS dan sekutu-sekutunya saat Perang Dunia II.
Dengan total 17.206 kuburan, pemakaman ini memiliki jumlah kuburan terbanyak dari semua pemakaman tentara AS lain akibat Perang Dunia II, misalnya yang ada di New Guinea. American Cemetery and Memorial Park dikelola oleh American Battle Monuments Commission.
Dengan nisan yang terbuat dari marmer dan posisi pemakaman selaras dalam sebuah plot yang membentuk pola melingkar di antara berbagai pohon-pohon tropis dan semak-semak, Memorial ini tetap menjadi objek wisata yang menarik. Kendati pada dasarnya adalah sebuah pemakaman.
Dengan pintu masuk dari arah Timur yakni di antara persimpangan Rizal Drive dan Eighth Avenue, pemakaman ini buka setiap hari untuk umum dan gratis. Buka pukul 9.00 - 17.00 waktu setempat kecuali setiap tanggal 25 Desember dan 1 Januari.
Ayala Museum
Jika Museum Sepatu Imelda Marcos memajang koleksi yang termasuk kategori lawas maka Ayala Museum memajang koleksi yang serba modern, futuristik, unik dan educated. Museum Ayala di daerah Makati, sebuah kawasan perkantoran dan pusat perbelanjaan modern di Manila.
Museum ini buka baik saat weekdays maupun weekends dengan tiket masuk masing-masing yang berbeda. Didirikan dan dikelola swasta yakni keluarga Zobel de Ayala dengan koleksi utamanya karya- karya seniman terkemuka dari anggota keluarga ini, Fernando Zobel.
Metro Manila City Sightseeing & Window Shopping
Ada banyak tempat nongkrong anak-anak muda di Manila. Dari yang paling modern dan mewah sampai yang semacam warteg di tepi jalanan. Orang Filipina umumnya suka musik. Bar dan café adalah tempat yang banyak dikunjungi anak muda.
Manila Ocean Park
Berada di daerah Luneta yang merupakan daerah pantai di Metro Manila. Tiket masuk untuk kategori terusan sebesar 700 peso. Manila Ocean Park ini buka setiap hari.
Rizal Park & Traditional Culinary Center
Berada di seberang jalan Manila Ocean Park. Jadi acara jalan-jalan di kedua tempat ini bisa terintegrasi dalam sekali tempuh sekaligus menghemat ongkos. Menariknya lagi, Rizal Park yang di dalamnya juga ada Japan Park ini connected dengan the Philippines traditional culinary center.
Dimana, kudapan-kudapan khas Filipina yang sebagian mirip dengan makanan melayu serta nusantara dijajakan dengan harga yang reasonable.
SM Mall of Asia
SM Mall of Asia adalah mal modern yang terbesar sekaligus terlengkap di Asia. Empat bangunan yang saling terkoneksi membentuk SM Mall of Asia. Dimana peruntukkan masing-masing bangunan itu adalah sarana bermain, sarana hiburan, bangunan taman di bagian Utara dan area parker di Selatan.
Tempat ini nyaman tak hanya untuk berbelanja, tapi bila hanya sekadar window shopping pun sangat oke. Atau sekadar makan di foodcourt-nya, minum-minuman ringan sambil nge-net di cafeteria juga oke. Pada lantai paling atasnya ada sarana ice skating.
Eastwood
Mall modern lainnya di Manila adalah Eastwood. Tidak sebesar dan toko-toko barang branded-nya tidak selengkap SM Mall of Asia memang, tapi cukup oke sebagai tempat one stop shopping keluarga.
Jika mencari suvenir khas Filipina, baik di SM Mall of Asia maupun Eastwood ada toko Filipino Kultur. (bersambung)
For better or for worse, people will always be wondered by the footwear of The Philippines' controversial former First Lady, Imelda Marcos, right? Maka berkunjunglah ke Museo ang Sapatos.
Lokasinya di daerah Marikina dan hanya buka saat hari kerja sedangkan di hari weekend museum ini tutup. Untuk bisa menuju museum ini setelah naik angkot maka dilanjutkan dengan tricycle. Tapi kami berdua saat itu memilih taksi karena alasan lebih nyaman dan adem.
Imelda Marcos pernah mengoleksi sekitar 3.000 pasang sepatu, tetapi dalam museum ini hanya ada 800 pasang sepatu koleksi pribadinya. Menurut museum guide-nya, sepatu koleksi lainnya menjadi milik pribadi sang ibu negara hingga akhir hayatnya. Koleksi yang ada di museum mulai dari jenis pantovel, stiletto, selop berhak, boots, sampai sepatu-sepatu hadiah dari negara-negara sahabat termasuk dari Ibu Tien Soeharto.
Ny. Imelda Remedios Trinidad Romualdez Marcos adalah janda mantan Presiden Filipina, Ferdinand E. Marcos. Dia menjadi ibu negara pada periode 30 Desember 1965 hingga 25 Februari 1986. Ny. Marcos lahir 2 Juli 1929 di San Juan, Manila. Orangtuanya adalah Vicente Orestes Lopez Romualdez (berdarah Spanyol) dari istri keduanya, seorang Filipina asli. Keluarga Marcos memiliki empat anak yaitu Maria Imelda Marcos, Ferdinand Marcos Jr., Irene Marcos dan Aimee Marcos yang diadopsi pada 1966.
China Town
Disebut juga Binondo. Berada di Ongpin Street, semua warga harus berjalan kaki di dalam lokasi pecinan ini. Toko-toko dan pemukimannya dipertahankan pada kondisi asli. Yakni pemukiman dan perniagaan warga Tiongkok yang sudah eksis sejak zaman sebelum Spanyol masuk.
Di sepanjang jalan banyak penjual barang-barang khas Tiongkok dan kebutuhan warga Tiongkok. Juga ada penjaja makanan khas seperti bapao. Toko obat tradisional China dan supermarket khas warga Chinese juga banyak tersedia.
Di dalam pecinan ini ada Bohay Tsinoy. Dalam akses Tagalog yang dibaca Bohay Cinoy, Cinoy atau Cino ya berarti China. Bohay Tsinoy adalah museum yang mendisplay seputar sejarah kedatangan bangsa China ke Filipina, penggambaran perjuangan mereka di rantau kala penjajahan Spanyol hingga saat mereka berhasil memperjuangkan perekonomian di negeri ini.
Dari Bohay Tsinoy diketahui, orang Cina-lah yang memiliki mesin cetak koran pertama di Filipina pada era sebelum Spanyol. Bagi orang Cina, mesin cetak koran sangat penting karena kunci menguasai dunia adalah informasi. Selain itu, membaca adalah pengetahuan dasar serta wajib yang diberikan kepada anak-anak mereka.
American Cemetary & Memorial Park
Selain dijajah Spanyol, Filipina juga pernah dijajah Amerika. Dan Manila American Cemetery and Memorial Park yang berada di Fort Bonifacio, Metro Manila seluas 62 hektare ini adalah kompleks makam tentara-tentara AS dan sekutu-sekutunya saat Perang Dunia II.
Dengan total 17.206 kuburan, pemakaman ini memiliki jumlah kuburan terbanyak dari semua pemakaman tentara AS lain akibat Perang Dunia II, misalnya yang ada di New Guinea. American Cemetery and Memorial Park dikelola oleh American Battle Monuments Commission.
Dengan nisan yang terbuat dari marmer dan posisi pemakaman selaras dalam sebuah plot yang membentuk pola melingkar di antara berbagai pohon-pohon tropis dan semak-semak, Memorial ini tetap menjadi objek wisata yang menarik. Kendati pada dasarnya adalah sebuah pemakaman.
Dengan pintu masuk dari arah Timur yakni di antara persimpangan Rizal Drive dan Eighth Avenue, pemakaman ini buka setiap hari untuk umum dan gratis. Buka pukul 9.00 - 17.00 waktu setempat kecuali setiap tanggal 25 Desember dan 1 Januari.
Ayala Museum
Jika Museum Sepatu Imelda Marcos memajang koleksi yang termasuk kategori lawas maka Ayala Museum memajang koleksi yang serba modern, futuristik, unik dan educated. Museum Ayala di daerah Makati, sebuah kawasan perkantoran dan pusat perbelanjaan modern di Manila.
Museum ini buka baik saat weekdays maupun weekends dengan tiket masuk masing-masing yang berbeda. Didirikan dan dikelola swasta yakni keluarga Zobel de Ayala dengan koleksi utamanya karya- karya seniman terkemuka dari anggota keluarga ini, Fernando Zobel.
Metro Manila City Sightseeing & Window Shopping
Ada banyak tempat nongkrong anak-anak muda di Manila. Dari yang paling modern dan mewah sampai yang semacam warteg di tepi jalanan. Orang Filipina umumnya suka musik. Bar dan café adalah tempat yang banyak dikunjungi anak muda.
Manila Ocean Park
Berada di daerah Luneta yang merupakan daerah pantai di Metro Manila. Tiket masuk untuk kategori terusan sebesar 700 peso. Manila Ocean Park ini buka setiap hari.
Rizal Park & Traditional Culinary Center
Berada di seberang jalan Manila Ocean Park. Jadi acara jalan-jalan di kedua tempat ini bisa terintegrasi dalam sekali tempuh sekaligus menghemat ongkos. Menariknya lagi, Rizal Park yang di dalamnya juga ada Japan Park ini connected dengan the Philippines traditional culinary center.
Dimana, kudapan-kudapan khas Filipina yang sebagian mirip dengan makanan melayu serta nusantara dijajakan dengan harga yang reasonable.
SM Mall of Asia
SM Mall of Asia adalah mal modern yang terbesar sekaligus terlengkap di Asia. Empat bangunan yang saling terkoneksi membentuk SM Mall of Asia. Dimana peruntukkan masing-masing bangunan itu adalah sarana bermain, sarana hiburan, bangunan taman di bagian Utara dan area parker di Selatan.
Tempat ini nyaman tak hanya untuk berbelanja, tapi bila hanya sekadar window shopping pun sangat oke. Atau sekadar makan di foodcourt-nya, minum-minuman ringan sambil nge-net di cafeteria juga oke. Pada lantai paling atasnya ada sarana ice skating.
Eastwood
Mall modern lainnya di Manila adalah Eastwood. Tidak sebesar dan toko-toko barang branded-nya tidak selengkap SM Mall of Asia memang, tapi cukup oke sebagai tempat one stop shopping keluarga.
Jika mencari suvenir khas Filipina, baik di SM Mall of Asia maupun Eastwood ada toko Filipino Kultur. (bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)




